Postingan

Hujan Bulan Desember

Aku tahu hujan, yang secara misterius membawa aroma menggoda. Aku suka hujan, yang menggelitik sanubariku dengan milyaran rasa. Aku cinta hujan, yang mempertemukan kau dan aku di bawah payung yang satu.        Ku tak lari lagi dari hujan.        Ku tak lari lagi menghindar,          kabur, ataupun menjauh.        Ku rasakan tetes air hujan,        mengaliri setiap inci kulitku,        membawa sensasi yang tak dapat dijelaskan. Payung malam itu, ‘kan jadi kenangan indah, bukti awal dari segala awal. Tak hanya mengurangi percikan air hujan yang dingin, tapi pula meneduhkan hati. Mungkin, masih tersisa bekas tanganku dan tanganmu, yang memegang gagang yang satu.           Angin semilir menggelitik,    menambah nikmatnya hujan malam itu.           Di tengah kegelapan malam           serta indahnya taburan bintang           Makin menyempurnakan hari itu.           “Selamat malam, tidur nyenyak,”           begitu bisikmu, sebelum kita berpisah           di persimpangan jalan. Kini kau ta…

The Vessel [2]

Back to The Vessel [1]

      Tak hanya tugas, berlanjut pada kegiatan organisasi. Aku tak pernah mengira tanggung jawab yang kudapatkan sedemikian besarnya. Saran dan kritik sudah menjadi makanan sehari-hari yang harus ditelan dengan nikmat. Kemampuan berkomunikasi dan memanajemen menjadi hal yang wajib kumiliki. Kemampuan mendekatkan diri dan menjalin relasi dengan rekan-rekan satu tim juga harus kuterapkan. Dengan kepribadian yang ceria dan cukup mudah mengalah, tak mudah bagiku untuk dapat menguasai puluhan mulut yang menyuarakan ide-ide cemerlang (karena aku sendiri juga banyak bicara). Belum lagi, ketika ada masalah menghadang dan sisi melankoli muncul. Rasanya ingin segera angkat kaki saja menuju dimensi waktu yang lain.       Menjadi asisten tutorial juga bukan pekerjaan yang mudah. Setahun lalu, ketika aku hanyalah seorang peserta, aku melihat asisten tutorial bukanlah pekerjaan yang susah. Cukup membaca materi yang ada pada buku dan menyampaikannya dengan santai pada peserta…

The Vessel [1]

Mengiring-Mu, seumur hidupku Masuk dalam rencana-Mu, Bapa Pikiranku, kehendakku, kuserahkan pada-Mu Harapanku hanya di dalam-Mu Kukan teguh bersama-Mu Tuhan Jadikanku, bejana-Mu untuk memuliakan-Mu
       Lagu dengan tempo slow ini menohokku dengan keras semalam. Lagu yang membuatku menangis dan tenggelam dalam lirik serta iramanya, setelah sekian lama tak merasakan demikian. Entahlah, seolah Tuhan berbicara padaku semalam lewat lagu ini. Akan kuceritakan sedikit kisahnya.          Semua berawal ketika aku menginjak tahun kedua studi di perguruan tinggi ini. Dengan penuh kebanggaan, kuambil jumlah SKS yang lebih banyak dari sebelumnya. Kuterima tawaran jabatan yang prestisius di organisasi. Tak tanggung-tanggung, pada semester sebelumnya aku memutuskan untuk menjadi seorang asisten tutorial pula. Belum lagi, bagaimana relasiku dengan orang-orang di sekitarku. Bukanlah hal yang mudah untuk dilalui, demikian kata beberapa orang yang menanyai kesibukanku selama semester ini. Mungkin, ada oran…

Behind Us.

“Kapan kau akan menulis lagi?” “Entahlah. Inspirasi dan ideku menguap begitu cepat.” “Cepatlah menulis. Aku rindu untuk membacanya.” “Iya, setelah aku menemukan ide.” “Kutunggu. Secepatnya.”
                Aku sedikit teringat percakapan singkat itu. Percakapan yang membuat diriku amat bahagia, ketika sadar tulisan seorang amatir ternyata dinanti-nantikan. Setidaknya, untuk seorang – seorang spesial. Apalagi, yang menantikannya tak begitu suka membaca. Pernahkah kau merasa cukup kaget ketika seorang yang bahkan tidak suka bergaul dengan tulisan-tulisan, tiba-tiba mengharapkanmu menulis kisah panjang untuknya? Bagiku, sebuah perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan cara apapun. Amat sangat bahagia.                 Kalori untuk menulis baru saja ia salurkan padaku semalam. Sebuah malam yang baru saja berlalu begitu cepat, tanpa bisa dirasakan. Jarum jam tak dapat berhenti untuk berputar dan menunjuk dari satu angka ke angka lainnya. Malam itu, ia tampil dengan emosi yang berbeda. Entah, …

Bahagia

Bahagia, Sebuah kata yang berlalu-lalang Sebuah frasa yang acap berulang Seolah menjadi sebuah tujuan akhir yang gemilang.
Bahagia, Seperti apakah itu? Apa gelak tawa riang tanpa setetes pun air mata? Apa hari indah dengan sinar matahari yang menghangatkan? Apa harta yang berkelimpahan?
Bahagia, Entah, sebuah kata, empat suku kata Suatu yang selalu digenta Suatu yang selalu dipinta Suatu yang selalu berusaha dicipta
Bahagia, Kapan akan ditampilkan? Siapa yang akan mewujudkan? Di mana ku akan dapatkan?
Bahagia, Tak bisa didefinisikan Tak ada seorang pun dapat mempatenkan Apa itu bahagia yang sejati
Bahagia, Itu sederhana Memupuk sejuta makna Melahirkan milyaran tresna
Bahagia, Dalam satu kedipan mata Cukup, tak perlu lagi meminta Ketika tiada dusta Ketika kau dicinta Ketika kau jadi pelita
Bahagia,
Sesederhana itu

Aura

Gadis itu berdiri dengan tegap menghadap Sang Surya yang hendak beristirahat. Semburat langit oranye kekuningan menjadi latar belakang yang sempura baginya. Rambutnya yang warna coklat tampak keemasan dengan siraman sinar sore. Dari belakang pun tampak jelas, bahwa sekujur tubuh gadis itu kaku.
Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Bibirnya terkatup rapat dengan tegang. Tatapan matanya sangat jauh, entah melayang ke mana. Kedua telapak tangannya tergenggam dengan kuat di samping tubuhnya. Ia tak berusaha untuk mengatasi angin yang terus meniupi dirinya, mengacaukan rambutnya, mengibarkan ujung-ujung pakaiannya. Ia biarkan dirinya dimiliki oleh alam untuk saat itu.
Hatinya rapuh sudah. Hanya satu sentuhan saja, hancurlah jadi berkeping-keping. Ia tak peduli lagi. Biarlah hatinya hancur, yang penting ada pancaran kebahagiaan dari orang lain. Toh, hati yang sudah retak ini pun tak mampu dibenahi, bukan? Sekalian saja, hancurkan saja! Bentak gadis itu dalam hatinya.
Lenyap sudah aura sukac…

Meringkuk

Pekatnya awan malam memudarkan sinar Sang Dewi. Kecantikannya tertutup, semakin lama semakin lenyap dari angkasa. Padahal, seharusnya malam ini ia dapat memancarkan kecantikannya pada seluruh penjuru semesta. Seharusnya, semua mata tertuju padanya, terkagum akan pesonanya, dan membuat suasana begitu manis bagi setiap orang tanpa terkecuali. Seharusnya.
Malam ini, angin bertiup cukup kencang, mendorong ranting-ranting bergesekan satu sama lain dan daun-daun melambai-lambai menyambut malam yang kian pekat. Udara menembus masuk dalam kamarku, memicuku untuk menarik selimut semakin tinggi. Mala mini seolah menjadi malam yang sangat sempurna untukku. Seluruh jagat raya dan semesta mendukungku. Mendukungku untuk meringkuk seperti bayi yang baru lahir dan meratapi diriku saat ini. Kalau boleh kembali ke masa lalu, aku ingin kembali. Kembali menjadi seorang anak kecil yang baru terlahir di dunia ini. Meringkuk dengan penuh kedamaian. Semua orang menyambutku gembira. Seorang bayi lucu yang memba…

Cahaya di Penjuru Hati: Sebuah kisah yang menyihir setiap insan pembaca

Gambar
Sebuah kisah hidup yang penuh liku disajikan dengan sangat apik oleh penulis favorit saya, Alberthiene Endah. Bagi sebagian orang, mungkin kisah hidup alias biografi tergolong membosankan, karena alurnya yang begitu-begitu saja tanpa ada bumbu-bumbu fantasi di dalamnya. Bagi mereka penikmat biografi, tentu, biografi menyajikan kekhasannya sendiri yang membedakannya dengan jenis buku lainnya. Namun, kali ini, saya kira kisah pemilik Andi Publisher mampu menyihir setiap pembacanya dalam dunianya, tanpa terkecuali.


Alurnya sangat menarik
Pada setiap babnya, kisah diawali dengan kondisi pada tahun 2014, di mana J.H. Gondowijoyo berada pada titik kritis hidupnya untuk kesekian kali. Belahan jiwanya, jantung hatinya, bidadarinya, Liliawati Gondowijoyo tertidur selama beberapa waktu lamanya dalam ruang ICU. Namanya saja belahan jiwa, J.H. Gondowijoyo dikisahkan sungguh amat sedih dengan kondisi tersebut. Dengan setia, ia menemani sang istri tercinta ditemani suasana mencekam khas ICU. Sembari…